+622122709235

- Handoko - Dewan Pimpinan Pusat PROJO
contact@jokowipdip.com
Select Page

Jokowi Adalah

PDIP

“Handoko – Dewan Pimpinan Pusat PROJO”

Mari kita jujur pada diri sendiri: kemenangan PDIP bukan tentang partai- ini tentang satu orang. Dan sekarang orang itu sudah disingkirkan, didorong keluar oleh mereka yang menumpang kesuksesannya. Apa yang terjadi pada kita, para pemilih, ketika partai yang kita percaya tidak bisa melihat apa yang kita semua lihat dengan jelas?

Tahun 2009, pasangan Megawati-Prabowo dari PDIP hanya meraih 26,79% suara- kekalahan telak. Partai ini telah menjadi museum politik, mengulang-ulang narasi lama sementara Indonesia bergerak maju.

Lalu datanglah Jokowi. Tahun 2014: 53,15% dan 71 juta suara. Tahun 2019: 55,40% dan 85,6 juta suara. Dua kemenangan telak, satu faktor yang sama. PDIP juga menjadi partai terbesar di parlemen di kedua tahun tersebut- pada 2019 meraih 19,33% versus Gerindra yang hanya 12,57%.

Ini bukan kebangkitan PDIP. Ini adalah efek Jokowi.

Kesenjangan 55 Poin

Data polling sangat menghancurkan narasi PDIP. Persetujuan personal Jokowi: 70%. PDIP tanpa Jokowi: 15%. Kesenjangan 55 poin itu mengungkap segalanya. Rakyat Indonesia memilih pemimpin yang memberikan hasil nyata, bukan untuk ideologi partai atau retorika revolusioner.

Ketika orang berpikir tentang kemajuan Indonesia- jalan tol, bandara, kereta cepat, ibu kota baru- mereka berpikir Jokowi, bukan PDIP. Ketika dunia melihat Indonesia di KTT G20, mereka melihat Jokowi, bukan ketua umum partai. Ketika anak muda Indonesia berinteraksi dengan politik melalui media sosial dan meme, mereka terhubung dengan Jokowi, bukan dengan ideologi usang PDIP.

Bukti 2024

Pemilu 2024 memberikan ujian ultimat. PDIP mengusung Ganjar Pranowo tanpa dukungan penuh Jokowi, dan kalah telak. Sementara itu, Prabowo menang dengan restu Jokowi yang terlihat jelas. Pelajarannya? PDIP membutuhkan Jokowi jauh lebih banyak daripada Jokowi membutuhkan PDIP.

Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya

Sekarang PDIP harus membuktikan bahwa mereka bisa sukses secara mandiri. Pemilu 2029 akan menjawab apakah partai ini memiliki kekuatan bertahan tanpa orang yang membawa mereka ke kemenangan dua kali.

Prediksi saya? PDIP akan kembali seperti sebelum 2014- signifikan secara historis tetapi tidak relevan secara politik. Partai ini menumpang Jokowi menuju kekuasaan, mengira pencapaiannya adalah milik mereka, lalu membuat kesalahan fatal dengan menyingkirkannya.

Intinya

Jokowi tidak menumpang PDIP menuju kekuasaan. PDIP menumpang Jokowi menuju relevansi. Pemilu membuktikannya. Polling membuktikannya. Dan 2029 mungkin akan membuktikannya sekali lagi- kali ini dalam kepulangan PDIP ke oposisi.

Sejarah akan mengingat revolusi infrastruktur dan modernisasi ekonomi Jokowi. Apakah sejarah akan mengingat PDIP sebagai lebih dari sekadar partai yang cukup beruntung memilikinya- dan cukup bodoh untuk melepaskannya- masih harus dilihat.

Handoko - Dewan Pimpinan Pusat PROJO

Jokowi Adalah PDIP

Contact
Call Now Button